Kamis, 11 November 2010
Malang - Panitia lokal mencetak 10 ribu lembar tiket untuk pertandingan amal yang digagas Liga Primer Indonesia (LPI) di Stadion Gajayana, Malang, Jumat (12/11/2010), antara Persema melawan tim Indo Holland.
Jumlah tiket tersebut dikonfirmasi setelah izin pertandingan telah dikeluarkan oleh pihak kepolisian setempat.
"Soal izin tidak ada masalah. Laga amal ini tetap digelar sesuai jadwal. Kita sudah cetak 10 ribu tiket," terang Panpel Persema Sapto P Santoso, Kamis (11/11/2010), siang.
Dia menjelaskan, dari 10 ribu tiket yang dicetak, 6.500 adalah kls ekonomi dengan harga jual Rp 15 ribu. Sisanya sebanyak 3.500 tiket untuk bangku VIP dengan harga tarif Rp 30 ribu.
"Kami cetak tiket hanya 10 ribu, dari 23.500 kapasitas stadion. Kami harapkan masyarakat akan datang menyaksikan laga ini, karena juga ini merupakan laga amal," jelasnya.
Segala persiapan penyelenggaraan laga amal bertajuk 'Untuk Indonesiaku' digelar Liga Primer Indonesia (LPI) ini telah rampung. "Semua sudah selesai, tak ada kendala," tandasnya.
Disinggung mengenai dampak hubungan panpel dengan PSSI, terkait Persema yang mengikuti Indonesian Super League (ISL) dan PSSI tidak merestui kompetisi LPI, Sapto menegaskan bahwa pihaknya hanya sebatas memberikan fasilitas laga amal ini.
"Konteksnya laga amal. Jadi kita sebagai tuan rumah siap membantu. Kalau soal PSSI, kami yakin tidak ada masalah dibelakang nanti," tegasnya.
Secara terpisah Manager Persema Asmuri mengungkapkan, laga amal ini sangat penting artinya bagi tim Laskar Ken Arok sebagai pengisi jeda dua bulan ISL, sebelum memulainya lagi dengan menghadapi Arema FC di awal Januari.
"Seluruh tim siap menjamu Indo Holland, dan kami akan mempertontonkan sebuah pertandingan yang menarik," ungkapnya.
Pertandingan amal pertama yang digagas LPI hari Rabu kemarin menghasilkan sekitar Rp 250 juta. Tim pemain Belanda keturunan Indonesia berhasil mengalahkan Surabaya FC dengan skor 2-1.
==
Keterangan foto: Pertandingan amal antara Surabaya FC versus tim Belanda keturunan Indonesia di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya, pada 10 November 2010. (dok. LPI)
Bojonegoro - Tim debutan Indonesian Super League (ISL) Persibo Bojonegoro untuk pertama kalinya akan bermain di stadion miliknya. Mereka berharap momen ini sejalan dengan dahaga untuk meraih kemenangan.
Dari enam pertandingan yang telah dilakoni, Persibo kalah empat kali dan baru mengantongi dua poin. Selama itu mereka "menumpang" di Stadion Brawijaya, Kediri, karena markasnya, Stadion Letjen H, Soedirman, belum lolos verifikasi Badan Liga Indonesia (BLI).
Akan tetapi stadion itu sudah dinyatakan memenuhi syarat, dan Boromania bisa lebih dekat menyaksikan pertandingan tim kesayangannya. Tamu pertama mereka hari Kamis (11/11/2010) ini adalah Bontang FC, yang saat ini mendekam di urutan dua dari bawah klasemen, persis di atas Persibo.
"Kita harus menang dalam pertandingan ini. Sebab, jika sampai gagal maka Persibo akan semakin sulit menipis," kata pelatih Persibo, Sartono Anwar.
Dalam pertandingan hari ini Sartono sudah menginstruksikan pasukanya untuk bermain menyerang. Dai saat yang sam pelatih yang gemar mengenakan topi ini juga meminta barisan pertahanan untuk selalu siaga mengamankan gawang dari serangan lawan.
"Kita akan bermain menyerang. Namun, kita juga tetap waspada di sisi pertahanan supaya tidak seperti beberapa pertandingan lalu, di mana kita gagal meraih kemenanganan lantaran kebobolan di menit-menit akhir gara-gara kurang waspada di sektor belakang," ungkapnya.
Persibo kemungkinan tak bisa diperkuat bek Sumardi karena akumulasi kartu kuning dan striker Dicky Firasat yang sedang sakit. Sartono bisa memakai jasa Aang Suparman atau M Hamzah untuk pengganti Sumardi. Dan di lini depan tetap kekuatan terbaik Samsul Arif bersama Eugene Dadi masih jadi kekuatan utama dengan pola 4-4-2.
Sementara dari kubu Bontang FC, pelatih Fachry Husaini mengaku tidak memasang target muluk-muluk dalam pertandingan ini. Bisa seri saja sepertinya sudah merupakan prestasi bagi timnya.
Kediri - Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu gambaran buat Persik Kediri saat ini. Setelah turun kasta ke Divisi Utama, mereka juga terancam tak bisa lagi menikmati gelontoran dana dari APBD.
Ketua Badan Anggaran DPRD Kota Kediri, Wara S Reny Pramana, membenarkan ancaman penolakan pengajuan anggaran yang disampaikan Persik. Kegagalan tim berjulukan "Macan Putih" itu bertahan di kompetisi ISL diakui menjadi salah satu alasannya.
"Dulu-dulunya wajar, anggaran hibah untuk Persik begitu besar, karena masuk kasta liga paling tinggi di Indonesia. Tapi sekarang 'kan turun. Jadi belum tentu kami menyetujui anggaran yang diajukan itu," ungkap Reny
Reny yang juga menjabat sebagai ketua DPRD dan ketua DPC PDIP tersebut juga mengungkapkan, ancaman penolakan pengajuan anggaran juga didasarkan belum terpakainya anggaran yang didapatkan Persik dari PAK APBD 2010 sebesar Rp 7 miliar, karena kompetisi yang belum berjalan.
Dalam RAPBD 2011 yang saat ini tengah dalam pembahasan, Persik mengajukan dana hibah melalui KONI sebesar Rp 15 miliar.
"Anggaran dari PAK kemarin kan belum digunakan, mengingat kompetisi belum bergulir, kenapa dalam 2011 kembali mengajukan," tandas Reny tegas.
Meski demikian, ditanya mengenai kemungkinan pengajuan anggaran oleh Persik benar-benar ditolak, Reny tak berani memberikan jaminan, karena pembahasan masih dilakukan dengan melibatkan sejumlah anggota Badan Anggaran DPRD.
"Di sana banyak kepentingan, dan pasti ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi yang jelas, kalaupun disetujui, kemungkinan besarannya tidak seperti yang diajukan," ujarnya.
Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan anggaran APBD untuk membiayai klub sepakbola. Meski demikian praktek di lapangan banyak ditemukan pelanggaran, karena hampir sebagian besar klub di Indonesia masih bergantung pada suplai uang negara tersebut. Ironisnya, untuk menyiasati aturan Mendagri, permintaan dan persetujuan pemberian anggaran dilakukan dengan kedok dana hibah.
Senin, 08 November 2010
- Persebaya Siap Jajal Tim Belanda Keturunan Indonesia
Jakarta - Persebaya Surabaya sudah siap menghadapi tim keturunan Indonesia dari Belanda. Tak mau mengecewakan penonton, pemain anyar pun bisa langsung diturunkan.
Liga Primer Indonesia (LPI) berencana menggelar pertandingan amal sebagai bentuk "pemanasan" menuju digelarnya kompetisi.
Laga pertama akan dihelat di Surabaya pada hari Rabu 10 November 2010 disusul kemudian Malang pada 12 November 2010, dengan menghadirkan pemain-pemain keturunan Indonesia yang berada di Belanda. Persebaya dan Persema akan menghadapi tim keturunan itu.
Persebaya, yang kebagian jatah lebih dulu untuk bertanding, mengaku sudah bersiap untuk turun dengan kekuatan penuh saat berlaga di Stadion Gelora 10 November.
"Persebaya akan menurunkan seluruh pemain terbaiknya dalam laga ini. Bahkan kalau perlu pemain yang baru kami rekrut, yakni pemain asal Korea Selatan, Na Byung Yul, juga akan diturunkan," tegas CEO Persebaya Surabaya.
"Yang jelas kami akan suguhkan permainan terbaik kami. Kami tidak mau mengecewakan masyarakat Surabaya, khususnya para pendukung setia kami. Apalagi pertandingan ini juga akan disiarkan di layar kaca, sehingga para pendukung Persebaya yang tersebar di daerah-daerah di seluruh Indonesia bisa menikmati suguhan kami," paparnya lebih lanjut.
Liano juga menyatakan bahwa persiapan untuk laga itu sendiri sudah berjalan mulus dan tak mengalami masalah berarti. Ia pun yakin kalau stadion Gelora 10 November yang berkapasitas 30 ribu tempat duduk nantinya akan dipadati penonton.
"Saya yakin 80 persen lebih tiket akan laku terjual karena saya tahu kebutuhan masyarakat Surabaya akan sebuah pertandingan sepakbola," lugas Liano optimistis.
Optimisme serupa ia lontarkan untuk laga amal kedua di Malang nanti, yang mana akan dihelat di Stadion Gajayana.
"Saya juga yakin bukan hanya di Surabaya, masyarakat Malang pun juga antusias menyambut pertandingan alam ini," pungkasnya.
Rencananya tim Belanda keturunan Indonesia akan datang dengan menggunakan dua kloter. Kloter pertama tim pimpinan Stanley Glenn Brard itu datang hari Senin (8/11/2010) sedangkan kloter kedua tiba pada hari Selasa (9/11/2010). Sebelum boyongan ke Surabaya, mereka dijadwalkan untuk bertemu dengan Menpora Andi Malarangeng terlebih dulu.
Sleman - Latihan Persatuan Sepakbola Sleman (PSS) menjadi hiburan tersendiri bagi pengungsi di Stadion Maguwoharjo. Mereka merasa terhibur melihat latihan PSS setelah jenuh karena belum bisa pulang.
Rombongan PSS tiba di stdion kandangnya itu pada pukul 15.30 WIB. Dipimpin pelatih M. Basri, tim di musim ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia itu melakukan latihan, mulai dari joging memutari lapangan sampai permainan teknis.
Para pengungsi yang masih berdiam di stadion tersebut, tampak cukup antusias menonton latihan tim sepakbola tersebut. Sebagian besar yang menonton adalah kaum laki-laki, mulai dari anak-anak sampai orang tua.
Mereka terlihat cukup menikmati aksi tim berjuluk Elang Jawa itu. Bisa jadi ini disebabkan karena hampir seluruh pengungsi di Stadion Maguwoharjo merupakan warga Sleman.
"Mayan, Mas. Keno nggo gayeng-gayeng (Lumayan, Mas. Bisa untuk hiburan)," tukas Eko salah seorang pengungsi dari Pakem, Senin (8/11/2010).
Di pinggir lapangan tampak beberapa ibu-ibu menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menyuapi anak-anak mereka. Namun juga ada beberapa pengungsi yang tampak cuek, dan asyik sendiri bermain badminton di pinggir lapangan.
Surabaya - Munculnya duo Persebaya berbuntut pada izin pertandingan. Polda Jatim 'mengancam', tidak akan mengizinkan bagi duo Persebaya itu untuk bertanding di Surabaya maupun di Jatim.
"Kalau mengajukan ke saya, saya tidak mengizinkannya. Kenapa, karena faktor keamanannya, dan itu bisa memicu terjadinya konflik," ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Badrodin Haiti seperti diberitakan Detiksurabaya, Senin (8/11/2010).
Mantan Kapolres Surabaya Timur ini mengatakan, keamanan Kota Surabaya bisa terganggu, dengan digelarnya pertandingan Persebaya, baik Persebaya versi Wisnu Wardhana maupun Saleh Mukadar. Konflik keamanan itu bisa terpicu dari pendukung tim Persebaya yang dikenal dengan Bonek.
Kapolda berharap, pihaknya tidak ingin terjadi konflik horizontal yang merembet ke situasi keamanan dan ketertiba di Kota Surabaya.
"Persebaya kan ada 2 nama. Kalau kita melihat gambarannya, bisa menimbulkan konflik. Selama dua-duanya tetap menggunakan nama Persebaya, potensi konfliknya di situ. Kecuali kalau namanya lain meskipun orang-orangnya Persebaya itu lain. Makanya jangan menggunakan nama Persebaya, karena konfliknya itu," tuturnya.
Ketika ditanya tentang izin pertandingan bagi duo Persebaya di luar Kota Surabaya, atau ke daerah di luar Jatim, Badrodin mengaku akan melihat perkembangan faktor keamanan.
"Itu bukan pertandingannya aman atau tidak, tapi masalah konfliknya. Kalau di daerah di Jatim, kita lihat faktor keamanannya dulu. Kalau di luar Jatim, bukan kewenangan saya," jelasnya.
Jakarta - Ian Rush adalah salah satu legenda hidup dalam sepakbola, khususnya dalam sejarah klub Liverpool. Kini sang legenda membeberkan rahasia suksesnya bersama 'Si Merah'.
Rush pernah membela Liverpool selama dua periode, yakni 1980–1987 dan 1980–1987. Bersama The Reds pula ia mendapatkan reputasi sebagai tukang jebol gawang nomor wahid.
Salah satu bukti dari kepiawaiannya dalam bikin gol adalah Sepatu Emas Eropa yang ia dapatkan pada tahun 1984. Rush pula yang masih memegang rekor gol Liverpool dengan jumlah 346 gol.
Meski demikian, capaian Rush itu sendiri niscaya tak bisa ia capai jika bukan karena bantuan rekan-rekannya yang lain. Menurutnya, kunci dari solidnya sebuah tim memang adalah kerjasama antar pemain di dalam satu tim, bukan individu itu sendiri.
"Liverpool punya individu bagus, tapi kebersamaan juga harus bagus. Untuk sukses harus ada kerjasama tim, tidak bisa terlalu mengandalkan individu," tegas Rush dalam acara konperensi pers di Hotel Le Meridien, Jakarta, Minggu (7/11/2010) malam WIB.
Hal itu pula yang dilontarkan oleh Rush ketika dimintai tips terkait perkembangan sepakbola di Indonesia. "Yang utama di Liverpool FC adalah semangat tim, kebersamaan. Itu kunci sukses kami," lugas Rush memberi analogi.
Jakarta - Sekali lagi legenda Liverpool Ian Rush datang ke Jakarta. Kedatangannya kali ini sebagai sebuah bentuk "pemanasan" menuju acara roadshow akademi sepakbola Liverpool bulan depan.
Bulan Mei lalu Rush datang ke Jakarta untuk terlibat dalam sebuah coaching clinic kepada klub sepakbola anak-anak binaan Kedubes Inggris. Beberapa bulan berselang, Rush datang lagi untuk mengabarkan perihal Liverpool FC Football Academy Roadshow.
Acara itu akan digelar pada tanggal 4 hingga 12 Desember 2010, dengan dipimpin langsung oleh Rush selaku duta akademi dan pelatih Adam Flynn.
Acara yang berlangsung selama sembilan hari itu sendiri ditujukan untuk anak-anak, laki-laki mau pun perempuan, berusia 8 sampai 14 tahun. Anak-anak ini mendapat kehormatan karena ini merupakan kali pertama Liverpool FC mengadakan program akademi internasional di Asia Tenggara.
"Kualitasnya sama seperti di Liverpool FC. 60%-65% (peserta) akan digratiskan sedangkan 35%-40% sistemnya pay to play (membayar untuk main --red)," jelas Direktur Eksekutif BritCham Chris P Wren dalam konperensi pers di hotel Le Meridien, Minggu (7/11/2010) malam WIB.
Dengan model roadshow, Liverpool FC bukannya hendak membuka sekolah sepakbola di Indonesia --seperti yang sudah dilakukan Arsenal-- bulan Desember nanti. Namun, tidak tertutup kemungkinan kalau acara itu akan menjadi cikal bakal menuju terwujudnya hal tersebut.
"Kita adalah klub spesial, kita akan melakukan hal-hal dengan spesial juga, tapi dengan cara Liverpool. Jadi tidak akan sama dengan Arsenal," jelas Rush.
Kans dibentuknya sekolah sepakbola Liverpool sendiri, sambung Wren, kian terbuka mengingat The Reds saat ini tengah disponsori oleh Standard Chartered yang besar di Asia Tenggara.
Langganan:
Postingan (Atom)





